Cerita Kami

Cerita Kami

Blog ini berisi berita pelayanan Forkarisma, Saat Teduh dan Informasi lainnya.

BERITA DUKACITA

BERITA DIAKONIA

Pada hari Rabu, 22 April 2026, Forkarisma SMAN 1 Jakarta melaksanakan Pelayanan Diakonia sebagai bentuk kasih, kepedulian, dan dukungan kepada keluarga yang sedang berduka atas berpulangnya Ibu Josephin Haryati, ibu dari Yustina Tantri B91. Kegiatan ini menjadi wujud nyata kebersamaan keluarga besar Forkarisma dalam memberikan penghiburan dan doa bagi keluarga yang ditinggalkan.

Pelayanan berlangsung dengan penuh khidmat dan kekeluargaan. Dalam suasana doa dan penguatan iman, seluruh anggota yang hadir bersama-sama memberikan dukungan moral serta penghiburan kepada keluarga. Momen ini juga menjadi pengingat bahwa kasih dan perhatian sederhana dapat menjadi kekuatan bagi sesama yang sedang menghadapi masa sulit.

Forkarisma SMAN 1 Jakarta percaya bahwa pelayanan diakonia bukan hanya sekadar hadir secara fisik, tetapi juga menjadi sarana untuk menghadirkan kasih Tuhan melalui kepedulian, doa, dan kebersamaan. Semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan, penghiburan, dan damai sejahtera dalam menghadapi masa dukacita ini.

“Tuhan itu dekat kepada orang-orang yang patah hati, dan Ia menyelamatkan orang-orang yang remuk jiwanya.” — Mazmur 34:19

Terima kasih kepada seluruh pengurus dan anggota Forkarisma yang telah hadir dan mendukung pelayanan ini. Semoga semangat kebersamaan dan kasih terus menjadi bagian dari setiap pelayanan yang dilakukan.

Menjaga Lisan, Menjaga Hati, Menjaga Persekutuan

RENUNGAN KRISTEN FORKARISMA
Menjaga Lisan, Menjaga Hati, Menjaga Persekutuan 🤍

Lidah memang kecil, tetapi memiliki kuasa yang besar.
Lewat perkataan, kita bisa menguatkan seseorang… namun juga bisa melukai tanpa sadar.

Sebagai keluarga besar
FORKARISMA (Forum Komunikasi Alumni Kristen Katolik SMAN 1),
mari belajar menjaga setiap kata yang keluar dari mulut kita — agar menjadi berkat, bukan batu sandungan.

📖 “Siapa menjaga mulut dan lidahnya, menjaga dirinya dari pada kesesakan.”
— Amsal 21:23

Sebelum berbicara, mari bertanya pada diri sendiri:
✔️ Apakah ini benar?
✔️ Apakah ini perlu?
✔️ Apakah ini membangun?

Kiranya setiap perkataan kita dipenuhi kasih, kelembutan, dan hikmat Tuhan 🙏

#Forkarisma #RenunganKristen #MenjagaLisan #Amsal2123 #Katolik #Kristen #AlumniSMAN1 #RenunganHarian #Persekutuan #KasihKristus

Merawat Persahabatan Lama

Merawat Persahabatan Lama dengan Pengampunan

Persahabatan yang panjang hampir selalu menyimpan cerita yang beragam. Ada tawa, dukungan, percakapan hangat, dan kenangan indah. Namun, tidak jarang juga ada salah paham, jarak, kekecewaan, atau luka kecil yang tidak pernah dibicarakan. Karena itu, persahabatan masa lalu yang benar-benar bermakna tidak hanya dirawat dengan nostalgia, tetapi juga dengan pengampunan.

Dalam Injil Matius, Yesus mengajarkan pentingnya mengampuni. Ketika Petrus bertanya tentang berapa kali seseorang harus mengampuni, Yesus memberikan jawaban yang menunjukkan bahwa pengampunan tidak boleh dihitung secara sempit. Pengampunan adalah sikap hati yang terus dibentuk oleh kasih Allah.

Pengampunan bukan berarti menganggap semua luka tidak pernah terjadi. Pengampunan juga bukan berarti memaksa semua hubungan kembali seperti dulu. Pengampunan adalah keberanian untuk melepaskan beban yang membuat hati tetap terikat pada sakit hati. Dalam persahabatan lama, pengampunan menjadi jalan agar kenangan tidak berubah menjadi kepahitan.

Banyak orang memiliki sahabat masa lalu yang sebenarnya masih dirindukan, tetapi hubungan itu terhenti karena ego, kesalahpahaman, atau komunikasi yang tidak selesai. Kadang yang dibutuhkan bukan pembicaraan besar, melainkan kerendahan hati untuk menyapa lebih dulu. Dalam beberapa keadaan, cukup dengan doa yang tulus agar hati menjadi lebih lapang.

Yesus juga mengingatkan pentingnya berdamai dengan saudara sebelum mempersembahkan sesuatu kepada Allah. Ini menunjukkan bahwa relasi dengan sesama tidak terpisah dari kehidupan iman. Ibadah, pelayanan, dan doa kita menjadi lebih utuh ketika hati kita tidak dipenuhi dendam.

Bagi komunitas alumni, nilai pengampunan sangat penting. Pertemuan kembali dengan teman lama dapat membuka kenangan indah, tetapi kadang juga memunculkan cerita yang belum selesai. Dalam suasana iman, reuni atau pertemuan alumni seharusnya bukan hanya ruang mengenang masa lalu, tetapi juga ruang memperbarui persaudaraan.

Sahabat lama yang bermakna tidak selalu harus menjadi sahabat terdekat di masa kini. Namun, mereka tetap layak dikenang dengan hati yang bersih. Jika dulu ada kebaikan, syukurilah. Jika dulu ada luka, belajarlah melepaskan. Jika masih ada kesempatan berdamai, lakukanlah dengan rendah hati.

Pada akhirnya, persahabatan yang dijiwai Injil adalah persahabatan yang tidak berhenti pada kenangan, tetapi bertumbuh dalam kasih. Masa lalu tidak perlu disesali terus-menerus. Ia dapat menjadi tempat kita belajar tentang kesetiaan, kerendahan hati, dan pengampunan.

Sahabat masa lalu adalah bagian dari perjalanan Tuhan membentuk hidup kita. Dengan pengampunan, kenangan itu tidak lagi menjadi beban, melainkan berkat yang menuntun kita untuk hidup lebih bijaksana.

Injil: Matius 18:21–22; Matius 5:23–24